.

.
.

19 April 2016

Mengenal Gus Imin Inisiator Nusantara Mengaji

Abdul Muhaimin Iskandar atau sering dipanggil dengan nama Gus Imin atau Cak Imin adalah cucu dari pendiri Pondok Pesantren Denanyar KH. Bisri Syansuri, seorang ulama ahli di bidang fikih  atau hukum agama Islam. Putra KH. Iskandar kelahiran Jombang, 24 September 1966 ini sejak beliau sudah terkenal cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan.Di usia yang ke-14 tahun, dia sudah dipercaya menjadi staf pengajar di Pondok PesantrenDenanyar Jombang.

Tradisi pesantren membuat keterikatan dan ketertarikan keponakan KH. Abdurrahman Wahid ini untuk memperjuangkan nilai-nilai ajaran Islam ahlusunnah waljamaah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Cak Imin dengan gigih menempa kemampuan dan intelektualitas melalui berbagai aktivitas seperti di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) semasa menjadi mahasiswa di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga dipercaya kader PMII se-Indonesia sebagai Ketua Umum PB PMII periode 1994-1997. Selaku pemimpin tertinggi PMII, dia berhasil mengajak dan menularkan sikap kritis terhadap rezim otoriter di era Orde Baru.Sebagai anak muda NU, Cak Imin juga tidak pernah absen dalam perjuangan mewujudkan Islam toleran, damai dan ramah di Indonesia. Ia selalu lantang menentang praktik-praktik intoleransi dalam beragama. Sebagai wujud perhatiannya terhadap Islam ramah, Cak Imin selalu berada di barisan paling depan dalam upaya melahirkan Islam Indonesia Rahmatan Lil Alamiin. Prinsip perjuangan ini ia warisi dari Gus Dur.

Pergaulannya yang intensif dengan Gus Dur tak hanya mengalirkan ide-ide cerdas dalam perwujudan Islam damai, tetapi juga mengalirkan spirit negarawan. Tidak mengherankan di usianya yang masih muda karir politik Cak Imin melesat cepat menduduki posisi penting dalam pengambilan kebijakan di negara Indonesia ini. Dia juga dipercaya untuk memimpin partai politik yang dibentuk oleh para kiai terkemuka di Indonesia. 

Selaku tokoh dan pemimpin nasional, Cak Imin merasa prihatin dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Meski sedemikian akut dan kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa dan negara saat ini, dia senantiasa optimis bahwa pasti ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Selaku santri yang mempercayai kebesaran dan keagungan Allah SWT, Tuhan semesta alam, serta percaya dengan mukjizat Al-qur’an, dia terinspirasi untuk melakukan riyadhah nasional dengan menyelenggarakan khataman Al-qur’an sebanyak 300.000 kali.
[ir]