.

.
.

19 Februari 2016

Muh Zen " Pemerintah Harus Mampu Mempersiapkan Teknis UN di Sekolah Dengan Tepat"

Semarang, Sebanyak 517 sekolah di Jawa Tengah tahun ini ditarget oleh Kementerian Pendidikan untuk menerapkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) atau computer based test (CBT).

Namun sayang, target itu masih terkendala ketersediaan komputer dan permasalahan teknis lainnya. Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Muh Zen Adv mengatakan, berkaca dari pelaksanaan tahun lalu, pelaksanaan UNBK tahun ini harus mendapat perhatian serius.

Waktu mepet dan komputer yang belum dapat memenuhi kebutuhan, menjadi salah satu penyebabnya. ‘’Persiapan UN tahun ini tinggal satu bulan, karena Maret sudah dimulai. Tahun lalu banyak yang mundur karena belum memiliki jumlah komputer yang cukup,’’ ujarnya.

Karena itu, DPRD meminta agar Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota benarbenar siap menghadapi ujian nasional berbasis komputer tersebut. Terlebih tahun ini target jumlah sekolah naik dibanding tahun lalu yang hanya 87 sekolah.

SMP dan SMA
‘’UNBK hanya diberlakukan untuk SMPdan SMA. Dinas Pendidikan Jateng dan kabupaten/kota harus menyiapkan diri. Sebab sistem ini masih cukup baru,’’katanya.

Menurut politikus PKB itu, dalam praktiknya, UN model baru ini justru memboroskan anggaran. Sebab, tidak semua sekolah memiliki komputer memadai.

Selain itu, pengawas UN juga mengeluh karena harus bekerja mulai pagi sampai sore hari. Padahal, biaya pengawasan satu hari tahun lalu hanya Rp 50.000. ‘’Bisa terjadi disparitas pendapatan antara pengawas model UN baru dan lama. Honornya sama, tapi jam pengawasan lebih lama,’’tambahnya.

Menjelang pelaksanaan UN, Komisi E bakal memantau kesiapan sekolah dalam menerapkan UN model baru tersebut. Pada tahun kedua ini, diharapkan semua sekolah siap melaksanakannya. ‘’Sejumlah siswa mengeluh karena terkadang komputer mati atau bermasalah saat mengerjakan soal. Kalau sudah begitu, harus mengulang dari awal.

Hal itu bisa buat siswa down. Karena itu, sekolah harus banyak menggelar try out dan latihan UN model baru,” paparnya. (Irf)