.

.
.

23 November 2015

Suran Tegalrejo, Ingatkan Manusia untuk Ciptakan Damai



Magelang, Pengasuh Pondok pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo KH Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf yang juga Ketua Dewan tanfidz PKB Jawa Tengah menjadi tuan rumah dalam pagelaran Suran Tegalrejo pada Rabu, 11 Nopember 2015 bertempat di Komplek Pondok Pesantren API Tegalrejo Kabupaten Magelang.

Gus Yusuf menyampaikan bahwa acara Suran Tegalrejo sebagai refeksi mengingatkan manusia akan nikmat yang diberikan Tuhan. Ketika diberi nikmat sehat dan rasa cinta itu harus disyukuri digunakan untuk hal-hal yang positif, bukan membenci dan menebarkan teror,’’ katanya.

Ditambahkannya, situasi saat ini harus ditanggapi secara dingin. Mereka yang seringkali melakukan teror bukanlah bagian dari Islam, karena agama Islam itu Rahmatan Lil Alamin rahmat bagi dunia tak hanya manusia tapi seluruh isi dunia ini.

“Suran Tegalrejo ini bagian dari simbol bahwa Islam itu Rahmatan lil Alamin, pesantren dan para kyai merangkul semua kelompok masyarakat mengkampanyekan hidup penuh kedamaian. Menjauhkan dari hal-hal yang berbau kekerasan dan kebencian,’’ ujar Gus Yusuf dalam acara Suran Tegalrejo ke VII di komplek Ponpes API Tegalrejo Magelang,

Acara ini dihadiri juga  Komunitas Lima Gunung dan banyak kelompok kesenian lain ikut tampil dalam acara Suran yang dilaksanakan di bulan Sapar ini. selain itu juga  juga banyak dihadiri tokoh agama, tokoh seni, tokoh masyarakat serta ribuan santri dan warga sekitar.

Ia menyebut, akhir-akhir ini peristiwa besar menimpa dunia, mulai bencana asap hingga teror bom di Paris Prancis. Dunia ini sudah dalam kondisi kritis sesama manusia saling mencurigai dan saling membenci. Peradaban dunia mencapai titik kritis, babak baru perang dunia sudah dimulai. Bukan lagi sekutu melawan negara-negara lemah, tapi antar sekte dan kelompok radikal melawan orang yang beda keyakinan dan pandangan.

Dikatakannya, Suran Tegalrejo kali ini mengangkat tema ‘’Nikmat apalagi yang engkau dustakan’’ , sungguh manusia itu diberikan kenikmatan apa yang dimakan, diminum, dihirup itu pemberian dari Tuhan. Mendustakan bukan lagi tak bersyukur tapi lebih dari itu justru membenci nikmat yang diberikan Tuhan.

Komunitas Lima Gunung dan banyak kelompok kesenian lain ikut tampil dalam acara Suran yang dilaksanakan di bulan Sapar ini. Acara ini juga banyak dihadiri tokoh agama, tokoh seni, tokoh masyarakat serta ribuan santri dan warga sekitar.

Acara ini menurutnya, membangun kesadaran masyarakat bisa menemukan fitrohnya untuk saling mengenal dan saling menyanyangi. Bukan seperti yang terjadi sekarang masyarakat sudah bergeser dari komunal menjadi individual dan sebagian diantara mereka bahkan membenci.

Melalui Suran Tegalrejo yang ke 7 "Jamasan Alam", sekaligus untuk mengobarkan seruan damai terhadap situasi dunia yang sedang kritis ini, konsisten menjadikan ruang dan waktu penyelenggaraan sebagai wadah silaturahmi antara seniman, budayawan, santri dan kyai. Mereka berbaur dengan masyarakat, untuk menebarkan kedamaian melalui pagelaran acara seni budaya. [Irf]