.

.
.

5 Maret 2012

SELAMAT JALAN KH. ABDULLAH FAQIH

Tuban – Kabar KH. Abdullah Faqih (82) yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren langitan, Widang yang tutup usia pada Rabu malam (29/02) langsung menggema. Ribuan pelayatpun langsung memadati areal pondok pesantren yang berlokasi di tepi jalan poros Surabaya – Tuban. Sedangkan para santri yang memang mondok di pesantren tersebut langsung berkumpul di aula Ponpes dengan membaca doa dan tahlil.
Direncanakan jenazah kiai yang dikenal sebagai “juru damai” ini akan dimakamkan pada hari ini, Kamis (01/03) seusai sholat Dzuhur, pukul 12.00 WIB dipemakaman keluarga Ponpes Langitan Tuban, dengan berpulangnya kiai kharismatis tersebut, maka tak ayal arus lalu litas dari arah Surabaya – Lamongan yang menuju kearah Tuban melalui Widang padat hingga mencapai 2 kilometer.    

Dikatakan oleh beberapa warga dan alumni ponpes, mereka sangat kaget atas kabar berpulangnya kiai besar tersebut, kami segera datang bersamaan dengan rekan – rekan lainnya guna memberikan penghormatan terakhir kepada Guru, Ulama, orangtua yang pernah mengajarkan kami saat kami mondok di Ponpes. Tersebut.
"Sejak ba’da Isya hingga saat ini pondok menjadi ramai oleh para pelayat," terang salah satu mantan alumni pondok.


Selain warga dan para alumni, juga tampak hadir tamu dari kalangan pejabat dan ulama. Diantaranya KH. Jainuddin, Pengasuh Ponpes Ploso, Kediri dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf.
Dikatakan oleh salah satu pengurus Ponpes Langitan, hingga pagi tadi saja sholat jenazah sudah dilaksanakan sebanyak tujuh  gelombang.
KH Abdullah Faqih yang akrab disapa Kiai Faqih ini mengembuskan nafas terakhir di kediamannya, Ponpes Langitan sekitar pukul 18.30 kemarin.
Dikatakan oleh KH. Ubaidillah faqih (Gus Ubed) yang merupakan anak dari Kiai Faqih, Ayahnya meninggal dikarenakan sudah empat bulan lalu menderita serangan stroke ringan. Bahkan, dua bulan yang lalu beliau sempat dirawat di Graha Amerta, RSUD dr. Soetomo, Surabaya.

“Dan dua bulan terakhir, abah minta menjalani rawat jalan di rumah saja,” pungkas Gus Ubed.
Diterangkan oleh Gus Ubed, bahwa penyakit stroke ringan yang diderita oleh ayahnya tersebut, lantaran sebelumnya ayahnya sempat terjatuh. Akan tetapi karena kondisinya dianggap semakin membaik setelah beliau menjalani perawatan di Graha Amerta,maka beliau hanya menjalani rawat jalan saja.

KH Abdullah Faqih yang terkenal tak pernah suka dipublikasikan tersebut, memiliki pengaruh yang besar dikalangan para kiai dan ulama. Kiai faqih yang mulai mencuat namannya tat kala Sidang Umum MPR pada tahun 1998 lalu, dimana Kiai Faqih memiliki andil kala pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Dimana terbelahnya suara kalangan Nahdliyin, dimana warga NU ada yang mendukung dan ada yang menolak.
Dalam situasi dan kondisi yang demikian, sejumlah kiai sepuh NU yang salah satunya di pelopori oleh Kiai Faqih mengadakan pertemuan di Ponpes Langitan, yang pada akhirnya memunculkan istilah “poros Langitan” yang bisa dibilang fatwanya sangat berpengaruh pada pencalonan Gus Dur.  

Terkait dengan hal tersebut Kiai Faqih yang memberikan pesan kepada Gus Dur yang dibawa oleh KH. A hasyim Muzadi (mantan Ketua Umum PBNU) yang berisikan, "Kalau memang Gus Dur maju, ulama akan mendoakan". Membuat Gus Dur menitikan air mata karena hal tersebut merupakan restu dari Kiai Faqih.
Kiai Faqih yang juga terkenal dengan sebutan sang “Juru Damai” ini, merupakan sebuah sikapnya dan cerminan dari dirinya yang cinta akan kedamaian. Beliau kerap mendamaikan siapapun demi kepentingan masyarakat.   

Namun, Kiai Khos yang Karismatis dan menjadi juru damai itu, kini sudah tiada, beliau telah berpulang kepangkuan Allah SWT disaat bangsa ini masih membutuhkannya. Selamat jalan KH Abdullah Faqih. (lie dari berbagai sumber)