.

.
.

22 November 2010

SUDAH 20 HARI, RIBUAN WARGA MAGELANG TERPAKSA MAKAN SINGKONG

MAGELANG - Dampak yang timbul akibat erupsi Gunung Merapi makin parah. Kini, ribuan warga di Kabupaten Magelang terpaksa beralih makanan pokok dari beras menjadi singkong. Kondisi ini justru dialami warga di luar pengungsian setelah lahan pertanian mereka rusak terkena debu vulkanik.
Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah yang ada di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Warga yang mengandalkan hidupnya dari pertanian mulai kehabisan cadangan makanan. Padahal, stok bantuan di desanya melimpah. Hanya saja, barang tersebut hanya boleh didistribusikan kepada pengungsi yang menempati desa mereka.
"Sekarang saya berada di posisi yang sangat tidak mengenakkan. Satu sisi harus memenuhi kebutuhan pengungsi, sisi lain warga saya kelaparan," kata Kepala Desa Gantang, Muhyat, kemarin.


Di desanya terdapat 400 pengungsi yang berasal dari Desa Krinjing, Babadan, Srumbung bahkan Kabupaten Boyolali. Hampir seluruh kebutuhan pengungsi tercukupi dan bantuan melimpah. "Untuk mereka saya rasa lebih dari cukup," katanya.

Namun, 30 persen dari 3992 warga di desanya justru harus menderita lantaran mulai kehabisan cadangan makanan. Dia mengaku tidak bisa membantu warganya lantaran dibatasi oleh aturan. "Seluruh bantuan itu katanya untuk pengungsi. Kalau ada audit nanti saya bisa disalahkan. Padahal, sekarang warga saya kelaparan," keluhnya.

Selain makan singkong, kata dia, ratusan warganya juga mengkonsumsi pepaya dan nangka muda. "Bahkan mereka sudah menjurus ke anarkis karena saya dianggap tidak bisa menjadi pemimpin," katanya.

Di Desa Gondowangi juga terjadi persoalan yang sama. Kepala desa setempat, Indra Budi Gunawan mengatakan warganya mulai kehabisan bahan makanan lantaran ratusan hektar lahan pertanian di kawasannya rusak. Dia juga mengaku tidak bisa mendistribusikan bantuan kepada warganya lantaran terkendala regulasi.

Di desanya, sedikitnya ada 500 pengungsi yang datang dari Desa Sengi Kecamatan Dukun. "Tiap hari bantuan dari berbagai donatur datang dan menumpuk di balai desa. Sekarang stok untuk pengungsi berlebih. Tapi warga saya justru tidak bisa menikmati bantuan itu," kata Indra.

60 persen warga di Desa Jati Kecamatan Sawangan juga bernasib sama. Mereka terpaksa beralih makan ketela lantaran persedian beras mereka sudah habis. Lahan kelapa yang biasa mereka ambil niranya sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. "Karena sebagian besar dari mereka adalah petani nira," kata Kades setempat, Lilik Suyadi.

Di desanya tinggal 3329 warga. Dia juga harus mengurus sedikitnya 500 pengungsi yang berasal dari Kecamtan Dukun dan sekitaranya. Mereka ditempatkan di balai desa.

Jemu, 55, warga Dusun Kadileben Desa Jati mengaku sudah dua puluh hari mengkonsumsi singkong yang tersisa di pekarangan rumah. Satu batang pohon singkong, katanya bisa digunakan untuk satu hari. "Di rumah ada tiga orang, kalau makan singkong ya enaknya dicampur dengan garam atau sambel," katanya dalam bahas jawa.

Paska erupsi Gunung Merapi, Jemu mengaku tidak bisa beraktifitas lagi di ladang milik mandornya. Apalagi, sejumlah padi yang semestinya siap panen rusak ditejang abu vulkanik. "Kalau singkong habis biasa beli satu kilonya seribu," tambah Dahuri, 56, warga lain di Dusun Duren Desa Jati.

Kedua warga tersebut mengaku sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah desa sebanyak dua kali. Wujudnya berupa beras sebanyak 2,5 kg. "Tapi sudah habis," tambah Dahuri.

Kondisi ini juga membuat anak-anak usia sekolah di desa itu kekurangan asupan gizi. Mereka hanya terpaksa mengkonsumsi singkong sama dengan ayah dan ibunya. "Tapi enak kalau dicampur sama garam," kata Anggun, siswa kelas VI SD dengan mimik lugu.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Kadir Karding yang menyempatkan diri mengunjungi warga non pengungsi mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, pemerintah harus segera melakukan langkah darurat untuk menyelesaikan masalah ini. "Terutama menyangkut regulasi. Jangan terkesan kaku. Semua warga baik pengungsi maupun non pengungsi membutuhkan bantuan," kata dia.

Logistik yang datang dari pihak ketiga, kata dia, seharusnya bisa digunakan untuk memberikan bantuan kepada warga non pengungsi. "Dengan catatan kebutuhan pengungsi tercukupi. Tapi saya lihat logistik pengungsi berlebih, jadi satu poin ini saya harapkan bisa segera direalisasikan," janji poltisi PKB ini.

"Saya akan segera koordinasikan dengan BNPB supaya kebijakan ini bisa segera dilakukan. Kasihan rakyat kita kelaparan, jika regulasi kaku," katanya.

Setidaknya, kata dia, dibutuhkan pendampingan logistik dan lauk pauk kepada warga di sekitar lereng merapi selama enam bulan ke depan. "Karena selama itu, mereka akan mencoba membangun dan menata kembali kehidupan mereka," terang dia.(sumber:JPNN Nusantara)